Minggu, 30 Oktober 2011

Peraturan Presiden Republik Indonesia no.61 tahun 2011 tanggal 20 September 2011 Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca

Rencana aksi (Bidang Energi dan Transportasi) :
Penggunaan gas alam sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan


Kegiatan :
Terlaksananya penggunaan gas alam sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan sebanyak 29,33 Million Metric Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) di 3 kota (Palembang, Surabaya, Denpasar) dan penggunaan Liquid Gas for Vehicle (LGV) sebagai bahan bakar angkutan umum perkotaan khusus di Denpasar sebanyak 10,58 ton/hari selama 2 tahun (2013-2014).

Tanggapan :
Kenapa harus mengganti penggunaan bahan bakar fosil dengan penggunaan gas alam ? bapak Djoko Sungkono pada Koran Kompas, Rabu (27/7/2011), menjelaskan, menurut para ahli minyak bumi, gas alam, dan batu bara yang dikatakan sebagai bahan bakar fosil diperkirakan akan habis 30 tahun lagi, bahan bakar gas habis dalam kurun waktu 70-80 tahun, dan bahan bakar padat 120 tahun lagi. Jika kita perhatikan, ternyata apa pun bentuknya, bahan bakar itu pasti akan habis walaupun dalam kurun waktu yang berbeda. Sangatlah tidak efektif kegiatan penggunaan gas alam ini, mengapa tidak langsung mengadakan kegiatan yang menggunakan bahan bakar padat yang kurun waktu habisnya lebih panjang. Apalagi untuk mengganti bahan bakar fosil dengan bahan bakar gas pada kendaraan umum bukan hal mudah, karena harus mengganti perangkat-perangkat kendaraan umum tersebut sehingga dapat menggunakan bahan bakar gas. Ada berapa banyak kendaraan umum di 3 kota ini yang harus direkonstruksi ulang demi pemanfaatan bahan bakar gas dalam waktu 4 taun (2010-1014), pembiayaannya pasti sangat mahal itupun jika perangkatnya sudah ada. Jika pemerintah membebankan pembiayaan penggantian perangkat pada pemilik kendaraan, maka yakin saja akan timbul masalah-masalah social, seperti demonstrasi yang berpotensi pengrusakan fasilitas yang dilakukan oleh pemilik kendaraan umum tersebut, dll.

"Samudera menangguhkan 37.400 miliar ton (GT) karbon, biomassa tanah sekitar 2000-3000 GT, Atmosfer mengandung 720.000.000.000 ton CO2 dan manusia hanya menyumbang 6 GT.. Lautan, tanah dan atmosfer mengalami pertukaran CO2 secara terus menerus sehingga beban tambahan oleh manusia ternyata pergesarannya sangat kecil. Pergeseran kecil di keseimbangan antara lautan dan udara akan menyebabkan kenaikan jauh lebih parah daripada apa pun yang kita bisa hasilkan."(Jeff Id dalam http://www.skepticalscience.com/human-co2-smaller-than-natural-emissions.htm). Artinya, emisi gas CO2 yang ditimbulkan manusia ternyata sangat kecil, pertanyaannya, kenapa pemerintah harus mengadakan semua kegiatan yang bertujuan untuk menurunkan emisi gas tersebut. Sebaiknya pemerintah menggunakan dana yang telah dialokasikan untuk pendidikan dan kesehatan gratis, itu lebih bermanfaat.
Muammar Hakim
H22108278

read more

Minggu, 23 Oktober 2011

Format Penulisan Karya Tulis Ilmiah


read more

The Lost World

Ketika masih kanak-kanak, saya sering sekali mengkhayal setiap kali menonton The Lost World, “Wah, seru sekali kalau punya dinosaurus peliharaan di rumah...”. Tentu saja anggota keluarga saya yang lain tertawa mendengar khayalan saya. “Maklum, anak-anak.”, mungkin begitu pikir mereka. Okelah, mungkin memang masih terlalu jauh untuk berpikir bagaimana cara membangunkan makhluk prasejarah itu. Untuk dinosaurus memang terlalu ekstrim, tapi ternyata cukup menjanjikan untuk banyak makhluk lain!

Beberapa tahun terakhir ini, dunia biologi membuka harapan besar untuk menghidupkan kembali satwa-satwa yang telah punah setelah Teruhiko Wakayama, seorang profesor biologi asal Jepang berhasil membuat kloning dari seekor mencit yang telah beku selama dua dekade. Para ahli genetika dan biologi molekuler pun berusaha untuk melakukan terobosan yang lebih spektakuler lagi, yakni merancang kembali makhluk hidup yang telah punah dari muka bumi! Ya, mulai burung Dodo (Raphus cucullatus) yang punah pada akhir abad ke-17, serigala Tasmania (Thylacinus cynocephalus), Quagga (Equus quagga) yang individu terakhirnya mati di kebun binatang Amsterdam tahun 1883, sampai beberapa subspesies dari harimau yang telah punah (Panthera tigris balica, Panthera tigris sondaica), bukan suatu hal yang mustahil lagi bahwa suatu saat nanti mereka akan kembali menjelajahi muka bumi ini. Para ilmuwan di San Diego, misalnya. Bermodal hanya sedikit jaringan yang diambil dari spesimen awetan banteng Jawa yang telah mati selama beberapa tahun, mereka berhasil mengisolasi DNA banteng Jawa tersebut dan memasukkannya ke sel telur sapi biasa. Hasilnya, dua ekor banteng Jawa dilahirkan dari rahim sapi biasa. Metode yang digunakan untuk hal itu adalah dengan meniru metode yang pertama kali dipakai untuk membuat domba kloning pertama, Dolly, yakni mengganti inti sel telur induk angkat dengan inti sel dari hewan yang hendak “dibangun”.

National Geographic bulan Mei 2009 ini menyajikan berita yang cukup menarik mengenai usaha para ilmuwan untuk membangkitkan kembali mamooth (ex. Mammuthus primigenius), sejenis gajah raksasa berbulu lebat yang pernah menguasai lingkaran kutub utara puluhan ribu tahun silam. Dengan ditemukannya spesimen utuh seekor bayi mamooth di Siberia dua tahun yang lalu, para ilmuwan berhasil memetakan lebih dari 70% genom mamooth yang merinci banyak hal dasar yang amat diperlukan untuk menghidupkan hewan kembali hewan purba itu. “Saya dulu tertawa mendengar Steven Spielberg (sutradara kawakan yang juga menangani pembuatan film The Lost World) berkata bahwa kloning binatang yang sudah punah tak bisa dihindari. Tapi kini saya tak lagi tertawa, setidaknya menyangkut mamooth. Ini bakal terjadi. Tinggal detailnya saja,” ujar Hendrik Poinar, pakar DNA purbakala dari McMaster University.

Dalam kasus membangunkan kembali binatang purba itu, pertama-tama haruslah didapatkan urutan DNA yang lengkap dari hewan punah yang hendak dibuat kembali. Urutan DNA ini amat panjang, bisa jadi terdiri atas milyaran pasangan basa (purin – pirimidin). Selanjutnya, para ilmuwan perlu membuat peta dari genom hewan tersebut. Keseluruhan genom itu kemudian harus diurutkan ulang berkali-kali untuk membuang DNA asing yang bukan berasal dari spesies tersebut. Kemudian, barulah DNA tersebut dikemas dalam benuk kromosom. Setelah memperoleh kromosom yang dapat digunakan, dapatlah dibuat inti sel sintetis yang nantinya (seperti yang diceritakan tadi) akan diselipkan ke sel tanpa inti dari induk angkatnya. Induk angkat tersebut diusahakan berkerabat dekat dengan hewan rancangan tadi, satu genus, atau setidaknya satu famili.

Untuk banyak spesies lain yang berlum terlampau jauh rentang waktu kepunahannya, hal itu jauh lebih mudah. Untuk serigala Tasmania, sejauh ini para ilmuwan telah berhasil membangun ulang sebagian besar dari DNA nya, terutama bagian yang membentuk bangun dasar tubuh. Dalam DNA berpenanda radioaktif yang disuntikkan ke tubuh beberapa hewan percobaan, terlihat bahwa DNA yang mengkode pembentukan tulang dan beberapa organ telah berhasil diisolasi. Karena itu, para ilmuwan terus mencari spesimen yang lebih utuh dan segar dari tiap-tiap hewan punah tersebut untuk membangun perpustakaan gen yang lebih lengkap. Pastilah, bicara soal menghidupkan lagi spesies yang telah punah dewasa ini tidak lagi dianggapscience-fiction belaka.

Percayalah, keberhasilan membangkitkan kembali harimau Jawa, serigala Tasmania, burung Dodo, mamooth, bahkan dinosaurus(?) hanya tinggal menunggu waktu saja. Namun, letak permasalahannya bukanlah di situ, bukan soal teknologinya, tetapi lebih ke soal etis. Ketika kita berhasil mengklon hewan yang telah punah, kita akan mendapatkan hewan yang sebatang kara di kebun binatang, bukan di habitat aslinya yang memang sudah tidak ada. Perlu dipertimbangkan kembali baik dan buruknya membangunkan kembali spesies yang telah punah. Memang, keberhasilan seperti itu akan membawa terobosan yang amat revolusioner di bidang sains, khususnya biologi, akan tetapi secara etis masih banyak sekali yang perlu dipertimbangkan.

Entahlah bagaimana akhirnya nanti. Namun saya pribadi yakin bahwa tak lama lagi akan ada banyak spesies punah yang dapat dibangun kembali, tentunya dengan segala kontroversi yang menyertainya!

Referensi :
- National Geographic
- How To Build a Dinosaur: Extinction doesn’t have to be forever by Jack Horner, James Gorman

read more

Minggu, 18 September 2011

Identifikasi Potensi Terjadinya Tawuran di Kampus Unhas

LATAR BELAKANG
Maraknya aksi bentrokan antar mahasiswa di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, membuat sebagian masyarakat tertentu mencibir peranan kaum pelajar. Betapa tidak, di tengah-tengah keterpurukan bangsa dan meroketnya biaya penididikan. Kini, hampir setiap hari golongan intelek acapkali berbuat ganjil, mulai dari aksi rusuh, tawuran, kekerasan fisik, penjualan narkoba, seks bebas, aborsi sampai tradisi menghilangkan nyawa orang lain. Selogan wajib menempuh pendidikan sembilan tahun hanya selogan semata. Pasalnya, menuntut ilmu tak bisa menciptakan manusia seutuhnya dengan budi pekerti yang arif. Malah mencetak anak didik berwatak barbar. Ironis memang. Tak hanya itu, jargon mahasiswa sebagai agen pengubah sosial, pembaharu, kontroling terhadap kebijakan pemerintah, mendobrak kemapanan dan panutan dalam soal moral ikut punah seiring derasnya arus baku hantam di kalangan kaum pelajar. Seolah-olah melekatnya status mahasiswa tak berbanding lurus dengan kebiasaan tak terpuji saat siswa. Adalah budaya tawuran dan adu fisik dalam menyelesaikan segala persoalan yang sedang dihadapainya.
“Ini sudah menjadi tradisi rutin”, begitu salah satu kutipan disebuah media surat kabar yang meliput terjadinya tawuran di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan. Tawuran kerap berakhir dengan baku lempar batu, senjata tajam, hingga aksi perusakan fasilitas kampus, pastinya akan mengkibatkan kerugian materil yang tidak sedikit. Terlebih lagi, tawuran juga menyebabkan korban luka-luka dan bahkan meninggal, padahal pemicunya tidak jarang hanya hal-hal yang sepele.
Mengapa di Unhas sangat berpotensi untuk terjadi tawuran ?, itulah yang akan kita coba kaji lebih mendalam pada makalah ini.

RUMUSAN MASALAH
Adapun masalah yang dapat kami rumuskan dalam pembahasan kali ini adalah :
1.       Apa pemicu terjadinya tawuran di Universitas Hasanuddin, Makassar.
2.       Mengapa di Universitas Hasanuddin, Makassar berpotensi terjadi tawuran.
3.       Bagaimana solusi untuk meminimalisir terjadinya tawuran di Universitas Hasanuddin, Makassar.

TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah :
1.       Untuk mengetahui apa pemicu terjadinya tawuran di Universitas Hasanuddin, Makassar.
2.       Untuk mengetahui mengapa di Universitas Hasanuddin, Makassar berpotensi terjadi tawuran.
3.       Untuk mengetahui bagaimana solusi untuk meminimalisir terjadinya tawuran di Universitas Hasanuddin, Makassar.

METODOLOGI
Pembahasan dalam makalah ini menggunakan metode kepustakaan, semua data yang terangkum di dalamnya diambil dari bahan-bahan bacaan baik dari media cetak maupun media elektronik yang relevan dengan pembahasan dan memiliki keterkaitan satu sama lain. Mengumpulkan data-data dari bahan bacaan tersebut kemudian mencari hubungannya, kemudian merangkum menjadi suatu yang lebih menarik.

DISKUSI
Tawuran, kedengarannya sangat aneh dan agak primitif, tapi itulah yang mereka lakukan, mahasiswa Universtas Hasanuddin (Unhas) yang katanya intelektual muda. Apalagi, sebab-sebab tawuran adalah hal-hal yang mungkin sepele bagi sebagian orang. Masalah ceweklah, masalah saling ejek, hingga masalah ada teman yang dipukul. Masalah seperti itu bisa jadi api besar yang kemudian membakar solidaritas kolektif. Massa kemudian ramai-ramai menyerbu fakultas lain.
Jika ditanya perihal tawuran, banyak mahasiswa Unhas yang berseloroh bahwa tawuran adalah bagian dari kalender akademik sebab, biasanya terjadi setiap bulan September. Pada bulan itu, mahasiswa merasa tertekan dengan tugas-tugas perkuliahan yang menggunung, dengan tuntutan mengerjakan skripsi yang berat. Melalui tawuran, mereka sejenak terbebaskan dari rutinitas tugas itu. Kampus akan segera diliburkan, kemudian mereka bisa istirahat sejenak.
Melalui tawuran, energi besar yang mereka keluarkan akan tersalurkan. Mereka kemudian merasa plong dan terbebaskan. Logikanya sama dengan seorang kawan yang lagi stres, dan sengaja pergi nonton pertandingan PSM di Stadion Mattoanging. Ia bebas teriak, mengumpat, dan memaki-maki. Sepulang nonton pertandingan sepakbola, ia merasa plong dan bebas stres. Logika yang sama juga berlaku dengan mahasiswa yang tawuran. Tertekan oleh tugas perkuliahan, hasrat berorganisasi yang tidak tersalurkan (karena kebijakan dropout yang kian ketat), serta kurangnya aktivitas kemahasiswaan yang diizinkan pihak kampus, menjadi benih-benih yang menyemai suburnya tradisi tawuran. Ini masih diperparah dengan arogansi pengajar yang merasa sok hebat, serta tiadanya katup-katup yang bisa mencairkan hubungan antar fakultas. Semua memperparah tradisi tawuran.
Dendam merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting sehingga seseorang melakukan tawuran yang bermotif dendam. Dendam ini sangat mendominasi terjadinya konflik yang terjadi di Universitas- Universitas Makassar. Dendam adalah salah satu sikap batin seseorang dalam melakukan pembalasan dan apabila keinginan batin tersebut tidak atau belum terpenuhi akan menimbulkan suatu sikap cemas dalam dirinya.
Terjadinya konflik di Universitas Hasanuddin, Makassar yang bermotif dendam disebabkan karena tekanan batin yang sangat mendalam atas perbuatan mahasiswa yang lain atau sikap mahasiswa yang sebelumnya memukuli atau mengejeknya sehingga timbul perasaan sebagai penghinaan yang dilakukan tetapi dilakukan oleh fakultas lain sehingga isu ini dapat dijadikan momen yang tepat untuk melakukan provokasi dengan sesama angkatan dan fakultas sehingga dengan isu ini sangat mudah memicu terjadinya konflik.
Kadang masalah yang tidak diselesaikan meskipun itu terjadi di luar area kampus bahkan bukanlah masalah yang berkaitan dengan kampus tersebut terbawa ke dalam kampus sehingga munculnya hal tersebut sehingga mempermudah memprovakasi mahasiswa untuk berbuat anarkis.
Doktrin senior merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan konflik yang terjadi di Universitas - Universitas Makassar. Apalagi pada momen penjemputan mahasiswa baru (OSPEK) yang digelar setiap praperkuliahan yang diadakan oleh setiap fakultas dan pengurus lembaga. Ospek itu pula yang menjadi ruang-ruang aktulisasi mahasiswa, sehingga terkadang ada senior yang berlebihan dalam melakukan pembinaan pada mahasiswa baru. Hal ini dikarenakan para mahasiswa baru tidak diperlakukan seperti manusia sehingga ketika mereka mau melawan mereka semakin diperlakukan tidak manusiawi jadi jalan satu-satunya bagi mahasiswa baru adalah mereka harus menuruti apa yang diperintahkan oleh seniornya. Hal inilah yang kemudian membentuk perilaku dari para mahasiswa baru yang pada dasarnya adalah orang-orang yang buta pada permasalahan yang terdapat di Universitas Hasanuddin, Makassar.
Pada Moment Ospek pula mereka diberikan materi-materi yang salah satu materinya adalah melakukan orasi di tengah-tengah teman mahasiswa yang lain, isi orasinya adalah mengecam salah satu fakultas yang menjadi lawan mereka selama ini. Hal itu yang dapat memicu terjadinya konflik karena sejak awal mahasiswa didoktrin oleh seniornya untuk menjadi lawan dari fakultas lain dan ternyata doktrin ini berjalan difakultas lain sehingga menumbuhkan potensi terjadinya konflik antar mahasiswa.
Minuman keras dan segala pengaruh negatifnya telah ada sejak lama, sehingga bukan lagi menjadi hal yang aneh apabila minuman keras yang termasuk dalam jenis yang mengandung bahan memabukkan sebagai salah satu pemicu konflik yang terjadi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Orang yang mabuk pada dasarnya tidak dapat mengendalikan diri, keadaan emosional yang tidak stabil sehingga rentan melakukan tindakan mengancam keselamatan dan kerusakan, dalam hal ini gedung-gedung yang ada.
Minuman keras yang berlebihan membawa pengaruh yang negatif atau sikap yang menuju ke arah yang tidak diinginkan setiap orang sehingga pihak civitas akademika diharuskan menemukan sebuah metode sehingga minuman keras tidak masuk di dalam kampus yag dapat merusak citra kampus.
mereka yang memiliki dendam memanggil teman seangkatannya dan junior-juniornya, setelah mereka semua datang dan berkumpul disatu tempat tertentu, mereka kemudian mengumpulkan uang untuk membeli minuman keras dan setelah minum mereka langsung melakukan penyerangan. Hal ini dilakukan untuk menambah keberanian dan menaikan adrenalin mereka.
Satu hal yang juga perlu ditambahkan yakni arogansi ilmu pengetahuan. Mestinya ilmu harus dilihat sebagai proses perjalanan untuk menemukan pengetahuan yang kemudian mengasah kebijakasanaan. Tapi di Unhas, ilmu menjadi terkotak-kotak dan masing-masing merasa lebih hebat. Bukan rahasia lagi kalau di kampus Unhas, mereka yang kuliah di ilmu-ilmu teknik seperti eksak merasa lebih superior ketimbang yang kuliah di ilmu sosial. Kuliah di eksak seolah identik dengan kecerdasan dan kehebatan, semenatra yang kuliah di ilmu-ilmu sosial adalah kelompok yang gagal bersaing. Apalagi, di kampus Unhas, filsafat ilmu tidak menjadi mata kuliah wajib. Pantas saja jika mahasiswa dan para pengajafrnya terkotak-kotak dalam cara berpikir yang sempit dan tiddak melihat relasi antar bidang pengetahuan. Inilah faktanya.
Banyak juga publik yang mengaitkan tawuran itu dengan situasi politik di Sulsel. Pada tahun 1992, gedung laboratorium milik Fakultas Teknik Unhas terbakar. Kata banyak orang, tawuran itu terkait dengan situasi jelang pemilihan Gubernur Sulsel, di mana saat itu Rektor Unhas Prof Basri Hasanuddin menjadi kandidat yang terkuat. Tapi, argumentasi tentang situasi politik ini agak berlebihan. Logika ini sama saja dengan memposisikan mahasiswa hanya sebagai pion yang mudah dikendalikan.  Argumentasi bahwa terjadi banyak masalah di tingkat internal dalam kampus sepertinya lebih masuk akal. Dan tawuran hanyalah satu kanalisasi untuk menyalurkan energi mahasiswa.
Sekadar mengingatkan, perkelahian mahasiswa yang berbuntut pembakaran kampus di Unhas pernah terjadi pada 1992 lalu. Kejadian itu kemudian dikenang sebagai \'Black September\' dari tahun 2003-2005. Pertama, 12 Desember 2003 Bentrokan antar mahasiswa di Kampus Unhas antara Fakultas Teknik (FT) dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Akibatnya, tujuh korban luka. Lima korban di antaranya berasal dari FISIP dan dua lainnya dari Fakultas Teknik. Kedua, 14 Desember 2003 Tujuh mahasiswa dan seorang satuan pengaman (Satpam) luka parah menyusul bentrokan antar mahasiswa di Unhas. Rektorat terpaksa membatalkan pelaksanaan ujian akhir. Sebab, tawuran melibatkan hampir sebagian besar mahasiswa Fakultas Teknik dan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Ketiga, 14 April 2004 Tawuran terjadi antara Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Karena tawuran ini, Albertu, Mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur tertikam di punggung sebelah kirinya dan dilarikan ke RS Wahidin Sudirohusodo. Keempat, 16 Desember 2004 Dua kelompok mahasiswa Fakultas Teknik dan FISIP di kampus Unhas Tamalanrea bentrok, sekitar 14.00 Wita. Akibatnya, empat orang mahasiswa dikabarkan mengalami luka ringan akibat terkena lemparan saat terjadi tawuran. Dua di antaranya adalah mahasiswa FISIP dan lainnya adalah mahasiswa Fakultas Teknik. Kelima, 31 Agustus 2005 Terjadi tawuran antar fakultas di Unhas masing-masing FISIP dan Teknik, 31 Agustus 2005 di Pelataran Baruga Unhas. Pelaku penyerangan melakukan pembakaran dan menghanguskan empat ruangan lembaga kemahasiswaan di fakultas tersebut. Dalam aksi tawuran tiga korban dilarikan ke RS Wahidin.
Sejatinya kita harus memahami bahwa perlakuan tak wajar itu hadir karena lunturnya budaya toleran, dan tertutupnya ruang dialog dalam menyelesaikan permasalahan. Menjamurnya bentrokan antar mahasiswa bukan saja dikategorikan sebagai kekerasan dalam pendidikan, tapi sudah termasuk pada kategori premanistik.
Cita-cita mulia pendidikan sebagai upaya memanusiakan manis pun harus rela raib ditelan kepongkahan dan keserakahan kita dalam mendidik anak. Apalagi, sang pendidik memberikan contoh tak layak. Lebih parah lagi, melunturnya budaya dialog tercermin dari seberapa jauh kita bisa menerima perbedaan dalam soal pendapat. Bila ruang-ruang tukar gagasan saja, sudah tak nyaman, bahkan hilang, maka tunggu keseragaman ide akan menjadi buahnya. Alhasil, kebiasaan bogem pula akan terus melekat dalam sanubari kaum terpelajar. Keragaman merupakan sesuatu yang tak bisa kita nafikan. Namun, harus kita junjung lebih tinggi. Pasalnya, kemajemukan pertanda hukum alam. Dengan demikian, kita harus mencoba mengarifi segala kemelut yang menimpa diri kita dengan lapang dada. Apalagi saat berselisih pendapat. Mestinya perbedaan bukan dijadikan sebagai laknat, tapi rahmat. Sederetan rapot merah mahasiswa pun tak akan disandang lagi oleh kaum terpelajar.
Mengatasi tawuran tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mustahil pula mengatasi tawuran dengan hanya menyalahkan mahasiswa semata. Ini logika para petinggi kampus yang jelas-jelas keliru. Kita mesti melihat tawuran secara proporsional sehingga penanganannya bisa lebih holistik. Baik mahasiswa, dosen, maupun pejabat kampus harus sama-sama berbesar hati kalau semuanya punya ‘kontribusi’ pada lahirnya tawuran. Jangan hanya menuding mahasiswa saja.
Berbagai cara telah dilakukan untuk meminimalisir terjadinya tawuran, ospek mahasiswa baru yang terkadang menjadi biang pemicu terjadinya tawuran antar fakultas sudah dihentikan dan mencoba metode baru yang sifatnya lebih positip dan menguntungkan yang tentunya melibatkan mahasiswa itu sendiri

SIMPULAN
Ternyata ada beberapa hal yang dapat dijadikan masalah sebagai pemicu maraknya tawuran di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Arogansi Ilmu pengetahuan dipupuk sejak mahasiswa masuk di Universitas. Pemikiran yang sangat sempit telah ditanamkan bahwa ada ilmu pengetahuan yang lebih superior, yang lebih hebat dibandingkan dengan ilmu lainnya. Kuliah di salah satu disiplin ilmu selalu identik dengan kehebatan jika dibandingkan dengan disiplin ilmu lainnya. Mahasiswa baru tidak diajarkan bahwa Ilmu pengetahuan itu sama hebatnya dengan ilmu pengetahuan lainnya, satu sama lainnya berhubungan dan saling mengisi kekosongan jika akan diimplementasikan kepada masyarakat. Inilah salah satu dampak jika mahasiswa tidak dibekali filsafat ilmu saat berkenalan dengan universitas. Akibatnya sejak menjadi mahasiswa baru mereka telah diajarkan jargon-jargon arogansi yang sangat gampang menyala menjadi api yang besar jika bergesekan dengan jargon arogansi lainnya.
Banyak hal lain yang membuat tumbuh suburnya tawuran, seperti tekanan perkuliahan, ruang ativitas organisasi kemahasiswaan yang semakin dibatasi, dan kadang arogansi dan otoriter dari pengajar menjadikan penyebab utama tingkat stress mahasiswa yang kadang diluapkan melalui tawuran (setidaknya masih lebih bagus tawuran daripada bunuh diri). Karakter orang sulawesi yang memang keras, menurunnya budaya siri’ (Siri’ adalah rasa malu yang terurai dalam dimensi-dimensi harkat dan martabat manusia, rasa dendam, dalam hal-hal yang berkaitan dengan kerangka pemulihan harga diri yang dipermalukan. Jadi Siri’ adalah sesuatu yang tabu bagi masyarakat Bugis-Makassar dalam interaksi dengan orang lain), merupakan salah satu katalisator lain jika dilihat dari sisi budaya. Tertutupnya keran komunikasi antara mahasiswa dan pengajar juga salah satu pemicunya, indikasi lain yaitu adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja melakukan tindakan provokasi kepada mahasiswa karena tuntutan politik atau semacamnya.
Kesalahan tidak semuanya ada pada mahasiswanya, namun semua yang ada dalam kampus itu. Para dosen sebenarnya punya andil yang sangat besar bagaimana mengajarkan mereka cara menyelesaikan masalah yang lebih elegan. Sikap otoriter pengajar sudah seharusnya diubah menjadi egaliter. Tanggung jawab ini bukan hanya dibebankan kepada para dosen pembina mahasiswa yang jumlahnya hanya satu orng untuk tiap jurusan yang mahasiswanya ratusan.
Namun, tawuran apapun yang mereka buat tidak akan membuat mereka jadi orang penting. Malah cenderung jadi bermasalah dengan individual development yang akhirnya akan membelokkan karakter mereka. Sehingga menghambat perkembangan interaksi pada lingkungan kerja mereka atau kelompok kerja mereka, apabila mereka mendapat pekerjaan nanti.
Konflik merupakan salah satu fenomena sosial yang tidak dapat dihindari dan selalu ada dalam kehidupan manusia sehingga wajar fenomena konflik tersebut menimbulkan keresahan. Sebab konflik dianggap sebagai gangguan terhadap mahasiswa dan civitas akademika, sehubungan dengan keadaan yang demikian maka tidak ada jalan lain selain bersatunya semua elemen dalam kampus, baik birokrasi maupun mahasiswa dan kepolisian dalam membuat reaksi untuk melakukan upaya antisipasi agar konflik tersebut dapat dieliminir sekecil mungkin.
Usaha penanganan konflik telah ada dan terus dilakukan oleh semua pihak baik kepolisian dan civitas akademika karena setiap orang mendambakan suatu kehidupan atau kondisi aman damai. Adapun upaya antisipasi dari berbagai pihak, antara lain :
1. Upaya Civitas Akademika
Sebagai penanggung jawab atas terciptanya kampus yang kondusif maka pihak rektorat, fakultas, jurusan dan mahasiswa memegang peran yang sangat vital terhadap konflik dan ketertiban kampus. Upayanya mengantisipasi setiap gejala-gejala konflik. Civitas akademika di Universitas - Universitas Makassar melakukan berbagai usaha atau kegiatan yang dituangkan dalam program kerja bidang kemahasiswaan yang mana civitas akademika harus menerima aspirasi dari semua civitas akademika. Setiap aspirasi yang muncul harus terlebih dahulu dikaji secara mendalam. Apakah mewakili kepentingan keseluruhan civitas akadmika secara umum atau hanya sebagian saja atau apakah perlu didahulukan atau dilaksanakan, sehingga pengambil kebijakan harus bersikap representatif, responsif dan bertanggungjawab dalam menentukan kebijakan, maka upaya yang berhubungan dengan mengeliminir konflik antara lain :
  1. Ketegasan pihak rektorat
  2. Mengoptimalkan program-program kemahasiswaan
  3. Melakulan transparansi dalam kebijakan rektorat
  4. Melakukan patroli setiap sekretariat UKM fakultas.
Salah satu kebijakan rektorat yang digagas oleh civitas akademika di Universitas - Universitas Makassar adalah melakukan operasi disetiap setiap sudut kampus di sekretariat setiap fakultas dan UKM selama 24 jam oleh keamanan kampus apabila ditemukan minuman alkohol dan senjata tajam maka langsung ditindaki oleh satpam dan diproses di komisi disiplin tingkat universitas.
2. Peranan Kepolisian
Pihak kepolisian memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga usaha menangani konflik yang ada di Indonesia yang khususnya di kampus Universitas - Universitas Makassar. Dalam hal ini pihak kepolisian dapat melakukan komunikasi dengan satuan keamanan kampus (satpam) atau mahasiswa, Resimen Mahasiswa, pengurus-pengurus lembaga dan birokrasi kampus sehingga ketika timbul gejala-gejala yang mengarah konflik yang berdampak anarkis langsung dapat diredam oleh pihak kepolisian.
Secara tegas fungsi polisi dalam UU No. 2 Tahun 2002 telah dirumuskan secara tegas yakni salah satu fungsi pemerintah negara dibidang pemeliharaan, keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan terhadap masyarakat. Maka secara garis besar fungsi kepolisian dapat digolongkan tiga bagian Fungsi ketertiban, Fungsi perlindungan dan fungsi pemeliharaan dan Negara.
3. Upaya Preventif
Penanggulangan secara preventif merupakan salah upaya yang mempunyai maksud agar usaha yang dilakukan secara astimatis berencana, terpadu, serta terarah jauh sebelum konflik itu terjadi. Tindakan ini sangat penting dan lebih efektif daripada menggunakan cara-cara lain.
Upaya preventif yang dilakukan kepolisian dan civitas akademika dalam rangka mencegah timbulnya konflik antara lain :
a). Mengoptimalkan program-program kemahasiswaan
Mengoptimalkan program-progam kemahasiswaan dengan cara merespon kegiatan-kegiatan mahasiswa yang bersifat positif serta dorongan moril terhadap mahasiswa sehingga menyaluran bakat bagi mahasiswa dapat teraktualisasi dengan baik serta memberikan fasilitas kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan.
b). Mendirikan pos penjagaan dan mendirikan tembok pembatas
Konflik merupakan salah satu fenomenal yang tidak dapat diprediksikan waktu dan tempat kejadiannya. Oleh karena itu salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh aparat kepolisian dalam meminimalisir terjadinya kejahatan adalah dengan mendirikan pos-pos penjagaan pada tempat-tempat yang rawan konflik seperti perbatasan Fakultas Teknik dan Fakultas Bahasa dan Seni, dan salah satu kebijakan rektorat yang bersifat preventif membuat tembok pembatas antara Fakultas Teknik dan Fakultas Bahasa dan Seni.
c). Patroli Keamanan Kampus
Patroli keamanan kampus merupakan salah satu aktivitas rutin dan menjadi tulang punggung pelayanan operasional dalam melakukan pencegahan semua konflik maupun timbulnya berbagai gejala yang menyebabkan konflik sebagian tugas keamanan kampus, patroli keamanan kampus dilakukan dengan tujuan selain keamanan, patroli dapat menyerap informasi yang ada dalam kampus sehingga mencerminkan kesiapan keamanan kampus sepanjang waktu dalam rangka menjalankan keamanan dan ketertiban.
4. Upaya Represif
Tindakan yang berupa represif salah satu usaha yang dilakukan oleh kepolisian dan civitas akademika setelah terjadinya tindakan kejahatan yang sasarannya adalah pelaku pemicu konflik, tindakan yang bersifat represif yang dilakukan oleh civitas akademika dan kepolisian menanggulangi tindak kejahatan antara lain :
a) Tindakan yang tegas dari pihak rektorat serta diberinya wewenang pada kepolisian untuk melakukan penangkapan dan penahanan untuk mengungkap konflik yang terjadi sampai tuntas.
b) Melakukan koordinasi kerja sama dengan polisi dan civitas akademika dalam rangka menanggulangi setiap konflik.


DAFTAR PUSTAKA
http://rahman7syamsuddin.blogspot.com/2011_03_01_archive.html






read more

Senin, 10 Januari 2011

Mengenal Hidrogen Peroksida (H2O2)

Hidrogen peroksida dengan rumus kimia H2O2 ditemukan oleh Louis Jacques Thenard di tahun 1818. Senyawa ini merupakan bahan kimia anorganik yang memiliki sifat oksidator kuat. Bahan baku pembuatan hidrogen peroksida adalah gas hidrogen (H2) dan gas oksigen (O2). Teknologi yang banyak digunakan di dalam industri hidrogen peroksida adalah auto oksidasi Anthraquinone.
H2O2 tidak berwarna, berbau khas agak keasaman, dan larut dengan baik dalam air. Dalam kondisi normal (kondisi ambient), hidrogen peroksida sangat stabil dengan laju dekomposisi kira-kira kurang dari 1% per tahun.
Mayoritas pengunaan hidrogen peroksida adalah dengan memanfaatkan dan merekayasa reaksi dekomposisinya, yang intinya menghasilkan oksigen. Pada tahap produksi hidrogen peroksida, bahan stabilizer kimia biasanya ditambahkan dengan maksud untuk menghambat laju dekomposisinya. Termasuk dekomposisi yang terjadi selama produk hidrogen peroksida dalam penyimpanan. Selain menghasilkan oksigen, reaksi dekomposisi hidrogen peroksida juga menghasilkan air (H2O) dan panas. Reaksi dekomposisi eksotermis yang terjadi adalah sebagai berikut:
H2O2 -> H2O + 1/2O2 + 23.45 kcal/mol
Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi dekomposisi hidrogen peroksida adalah:
1. Bahan organik tertentu, seperti alkohol dan bensin
2. Katalis, seperti Pd, Fe, Cu, Ni, Cr, Pb, Mn
3. Temperatur, laju reaksi dekomposisi hidrogen peroksida naik sebesar 2.2 x setiap kenaikan 10oC (dalam range temperatur 20-100oC)
4. Permukaan container yang tidak rata (active surface)
5. Padatan yang tersuspensi, seperti partikel debu atau pengotor lainnya
6. Makin tinggi pH (makin basa) laju dekomposisi semakin tinggi
7. Radiasi, terutama radiasi dari sinar dengan panjang gelombang yang pendek
Hidrogen peroksida bisa digunakan sebagai zat pengelantang atau bleaching agent pada industri pulp, kertas, dan tekstil. Senyawa ini juga biasa dipakai pada proses pengolahan limbah cair, industri kimia, pembuatan deterjen, makanan dan minuman, medis, serta industri elektronika (pembuatan PCB).
Salah satu keunggulan hidrogen peroksida dibandingkan dengan oksidator yang lain adalah sifatnya yang ramah lingkungan karena tidak meninggalkan residu yang berbahaya. Kekuatan oksidatornya pun dapat diatur sesuai dengan kebutuhan. Sebagai contoh dalam industri pulp dan kertas, penggunaan hidrogen peroksida biasanya dikombinasikan dengan NaOH atau soda api. Semakin basa, maka laju dekomposisi hidrogen peroksida pun semakin tinggi. Kebutuhan industri akan hidrogen peroksida terus meningkat dari tahun ke tahun. Walaupun saat ini di Indonesia sudah terdapat beberapa pabrik penghasil hidrogen peroksida seperti PT Peroksida Indonesia Pratama, PT Degussa Peroxide Indonesia, dan PT Samator Inti Peroksida, tetapi kebutuhan di dalam negeri masih tetap harus diimpor.
referensi:

read more

Daya Kerja Deterjen

Sebagai bahan pembersih lainnya, deterjen merupakan buah kemajuan teknologi yang memanfaatkan bahan kimia dari hasil samping penyulingan minyak bumi, ditambah dengan bahan kimia lainnya seperti fosfat, silikat, bahan pewarna, dan bahan pewangi. sekitar tahun 1960-an, deterjen generasi awal muncul menggunakan bahan kimia pengaktif permukaan (surfaktan) Alkyl Benzene Sulfonat (ABS) yang mampu menghasilkan busa. Namun karena sifat ABS yang sulit diurai oleh mikroorganisme di permukaan tanah, akhirnya digantikan dengan senyawa Linier Alkyl Sulfonat (LAS) yang diyakini relatif lebih akrab dengan lingkungan.

Pada banyak negara di dunia penggunaan ABS telah dilarang dan diganti dengan LAS. Sedangkan di Indonesia, peraturan mengenai larangan penggunaan ABS belum ada. Beberapa alasan masih digunakannya ABS dalam produk deterjen, antara lain karena harganya murah, kestabilannya dalam bentuk krim/pasta dan busanya melimpah.

Penggunaan sabun sebagai bahan pembersih yang dilarutkan dengan air di wilayah pegunungan atau daerah pemukiman bekas rawa sering tidak menghasilkan busa. Hal itu disebabkan oleh sifat sabun yang tidak akan menghasilkan busa jika dilarutkan dalam air sadah (air yang mengandung logam-logam tertentu atau kapur). Namun penggunaan deterjen dengan air yang bersifat sadah, akan tetap menghasilkan busa yang berlimpah.

Sabun maupun deterjen yang dilarutkan dalam air pada proses pencucian, akan membentuk emulsi bersama kotoran yang akan terbuang saat dibilas. Namun ada pendapat keliru bahwa semakin melimpahnya busa air sabun akan membuat cucian menjadi lebih bersih. Busa dengan luas permukaannya yang besar memang bisa menyerap kotoran debu, tetapi dengan adanya surfaktan, pembersihan sudah dapat dilakukan tanpa perlu adanya busa.

Opini yang sengaja dibentuk bahwa busa yang melimpah menunjukkan daya kerja deterjen adalah menyesatkan. Jadi, proses pencucian tidak bergantung ada atau tidaknya busa atau sedikit dan banyaknya busa yang dihasilkan. Kemampuan daya pembersih deterjen ini dapat ditingkatkan jika cucian dipanaskan karena daya kerja enzim dan pemutih akan efektif. Tetapi, mencuci dengan air panas akan menyebabkan warna pakaian memudar. Jadi untuk pakaian berwarna, sebaiknya jangan menggunakan air hangat/panas.

Pemakaian deterjen juga kerap menimbulkan persoalan baru, terutama bagi pengguna yang memiliki sifat sensitif. Pengguna deterjen dapat mengalami iritasi kulit, kulit gatal-gatal, ataupun kulit menjadi terasa lebih panas usai memakai deterjen.

read more

Efek Toksik Merkuri Metalik (Hg0)

Merkuri dilambangkan dengan Hg, akronim dari Hydragyrum yang berarti perak cair. Merkuri merupakan salah satu unsur logam yang terletak pada golongan II B pada sistem periodik, dengan nomor atom 80 dan nomor massa 200.59.  Logam merkuri dihasilkan secara alamiah diperoleh dari pengolahan  bijihnya, Cinabar, dengan oksigen (Palar;1994).
Logam merkuri yang dihasilkan  ini, digunakan dalam sintesa senyawa senyawa anorganik dan organik yang mengandung merkuri. Dalam kehidupan sehari-hari, merkuri berada dalam tiga bentuk dasar, yaitu : merkuri metalik, merkuri anorganik dan merkuri organik
Merkuri metalik dikenal juga dengan istilah merkuri unsur (mercury element), merupakan bentuk logam dari merkuri. logam ini berwarna perak. Jenis merkuri ini digunakan pada alat-alat laboratorium seperti termometer raksa, termostat, spignometer, barometer dan lainya. Secara umum logam merkuri memiliki karakteristik sebagai berikut, Berwujud cair pada suhu kamar (250C) dengan titik beku (-390C). Merupakan logam yang paling mudah menguap. Memiliki tahanan listrik yang sangat rendah, sehingga digunakan sebagai penghantar listrik yang baik. Dapat membentuk alloy dengan logam lain (disebut juga dengan amalgam)
Merkuri metalik digunakan secara luas dalam industri, diantaranya sebagai katoda dalam elektrolisis natrium klorida untuk menghasilkan soda kautik (NaOH) dan gas klorin. Logam ini juga digunakan proses ektraksi logam mulia, terutama ekstraksi emas dari bijihnya, digunakan juga sebagai katalis dalam industri kimia serta sebagai zat anti kusam dalam cat.
Merkuri metalik dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui saluran pernapasan. Termometer merkuri yang pecah merupakan salah satu contohnya. Ketika termometer pecah, sebagian dari merkuri menguap ke udara. Merkuri metalik tersebut dapat terhirup oleh manusia yang berada di dekatnya.
Delapan puluh persen  (80%) dari merkuri uap  yang terhirup, diabsorbsi oleh alveoli paru-paru. Merkuri metalik ini masuk dalam sistem peredaran darah manusia dan dengan bantuan hidrogen peroksidase merkuri metalik akan dikonversi menjadi merkuri anorganik.
Penggunaan merkuri metalik yang lain dan paling umum adalah pada amalgam gigi. Amalgam gigi mengandung 50 % unsur merkuri, 35 % perak, 9 % timah 6 % tembaga dan seng.  Amalgam  ini digunakan sebagai penambal gigi berlobang.
Tambalan amalgam melepaskan partikel mikroskopik dan uap merkuri. Kegiatan mengunyah dan  meminum makanan dan minuman yang panas menaikan frekuensi lepasnya tambalan gigi. Uap merkuri tersebut akan di serap oleh akar gigi, selaput lendir dari mulut dan gusi, dan ditelan, lalu sampai ke kerongkongan dan saluran cerna.
Merkuri metalik dalam saluran gastrointestinal akan dikonversi menjadi merkuri sulfida dan diekskresikan melalui feces. Para peneliti dari Universitas Of Calgarimelaporkan bahwa 10 % merkuri yang berasal dari amalgam pada akhirnya terakumulasi di dalam organ-organ tubuh (McCandless;2003)
Merkuri metalik larut dalam lemak dan didistribusikan keseluruh tubuh. Merkuri metalik dapat menembus Blood-Brain Barier (B3) atau Plasenta Barier. Keduanya merupakan selaput yang melindungi otak atau janin dari senyawa yang membahayakan. Setelah menembus Blood-Brain Barier, merkuri metalik akan terakumulasi dalam otak. Sedangkan merkuri yang menembus  Placenta Barier akan merusak pertumbuhan dan perkembangan janin.
Referensi
Kaim, wolfgang. 1951, Bioinorganik Chemistry : Inorganic Element In The Chemistry Of Life : An Introduction and Guide. England  John Wiley & Sons.
McCandless, Jaquelyn., Siregar, Ferdina (ptjm). 2003, Anak-anak dengan Otak yang “lapar”, Panduan  penanganan medis untuk penyandang ganguan spectrum autism (tjm). Jakarta. Grasindo.
Palar, Heryanto. 1994, Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta. Rineke Cipta.
Patrick, Lyn. 2002, Mercury Toxicity and Anti Oksidant: part I: Role Of Gluthatione And Alpha-Lipoic Acid in The Treatment of Mercury Toxicity.Alternative Medicine Review Vol 7 (6) 456-471.

read more

2,3-dimercapto-succinic acid (DMSA) sebagai agen khelasi

Khelasi (Chelation), berasal dari bahasa Yunani chele yang berarti sepit, merujuk kepada tangan kepiting atau kalajengking. Khelasi merupakan suatu proses reversible pembentukan ikatan dari suatu ligan, yang disebut khelator atau agen khelasi, dengan suatu ion logam membentuk suatu komplek metal yang disebut khelat. Tipe ikatan yan terbentuk dapat berupa ikatan kovalen atau ikatan kovalen koordinasi.

Terapi khelasi merupakan suatu metoda yang digunakan dalam mengatasi keracunan logam berat seperti merkuri. Dalam metoda ini digunakan senyawa organik tertentu yang dapat mengikat merkuri dan mengeluarkannya dari dalam tubuh manusia. Senyawa tersebut  memiliki gugus atom dengan pasangan elektron bebas, elektron tersebut akan digunakan dalam pembentukan ikatan dengan merkuri. Beberapa senyawa organik yang bisa digunakan sebagai khelator adalah dimercaprol, 2,3-dimercaptosuccinic acid (DMSA).

2,3-dimercapto-succinic acid (DMSA) merupakan senyawa organik larut dalam air, yang mengandung dua gugus tiol (-SH). DMSA merupakan khelator yang efektif dan aman digunakan dalam penanganan keracunan logam berat seperti timbal, arsen dan merkuri. Senyawa ini telah digunakan dalam penanganan keracunan merkuri sejak tahun 1950-an di Jepang, Rusia dan Republik Rakyat China, dan sejak tahun 1970-an digunakan di Eropa dan Amerika Serikat.


Senyawa 2,3-dimercapto-succinic acid (DMSA)

Senyawa organik yang dikenal juga dengan nama dagang chemet ini merupakan khelator yang efektif dalam penanganan keracunan logam berat seperti timbal, arsen dan merkuri. Serangkaian penelitian menunjukkan bahwa DMSA mampu mengeluarkan 65 % merkuri dari dalam tubuh manusia dalam selang waktu tiga jam (Patrick : 2002)

DMSA relatif aman digunakan sebagai khelator. Pada manusia normal, manusia, yang tidak terkontaminasi merkuri, 90 % DMSA yang diabsorbsi tubuh, diekskresikan melalui urin dalam bentuk disulfida dengan gugus thiol sistein. Sedangkan sisanya berada dalam bentuk bebas atau tanpa ikatan dengan gugus lain.

Dalam upaya mempercepat proses pengeluaran merkuri dalam tubuh manusia, DMSA dapat digunakan bersamaan dengan khelator lain seperti ALA (Alpha Lipoic Acid). DMSA juga dapat digunakan  bersamaan  dengan anti oksidan, seperti vitamin E dan vitamin C, dalam upaya mengurangi gangguan kesehatan sebagai akibat pembentukan radikal bebas oleh merkuri (Patrick : 2003)

Referensi

Miller, Alan L. 1998, Dimercaptosuccinic Acid (DMSA), A Non-toxic, Water-Soluble Treatment for Heavy Metal Toxicity. Alternative Medicine Review vol 3 (3) 199-207.
Patrick, Lyn. 2002, Mercury Toxicity and Anti Oksidant: part I: Role Of Gluthatione And Alpha-Lipoic Acid in The Treatment of Mercury Toxicity. Alternative Medicine Review Vol 7 (6) 456-471.
Patrick, Lyn. 2003, Toxic metal and antioksidants: part II. The Role of Antioxidants in arsenic and cadmium Toxicity. Alternative Medicine Review Vol 8 (2) 106.

read more

Spektroskopi Gamma

Sinar gamma sebenarnya hampir sama dengan sinar X , hanya saja sinar X lebih lemah. Sinar gamma ini dihasilkan oleh suatu bahan radioaktif. Sinar gamma adalah termasuk sinar yang tidak dapat dilihat oleh mata, untuk itu perlu adanya detektor. Detektor yang digunakan adalah NaI (Tl), detektor ini juga digunakan untuk sinar x, hanya saja detektor untuk gamma lebih tebal sedikit. Cara kerja dari detektor ini adalah sebagai berikut :

Apabila sinar gamma mengenai detektor NaI(Tl) maka akan terjadi tiga efek, yaitu efek fotolistrik, efek compton dan bentukan pasangan. Efek fotolistrik terjadi apabila ada sinar gamma yang mengenai elektron d kulit K dari sebuah atom maka elektron tersebut akan kosong sehingga akan diisi oleh elektron dari kulit yang lain, transisi ini yang menyebabkan terjadinya efek fotolistrik. Efek compton adalah efek yang terjadi apabila sinar gamma (dalam hal ini) mengenai elektron bebas atau elektron terluar dari suatu atom yang dianggap daya ikatnya sangatlah kecil sehingga sama dengan elektron bebas. Apabila sinar gamma memancar ke elektron bebas ini maka akan terjadi hamburan, yang disebut hamburan compton. Sedangkan Efek bentukan pasangan terjadi ketika sinar gamma melaju di dekat inti atom sehingga akan terbentuk pasangan positron dan elektron, syaratnya tenaga sinar haruslah cukup.

Dari ketiga efek tersebut, efek comptonlah yang paling kuat hal ini diakibatkan karena tenaga yang digunakan untuk melepas elektron juga yang lebih besar. Dan dari ketiga efek tersebut menghasilkan sintilasi atau pancaran cahaya, pancaran cahaya ini akan diteruskan ke fotokatoda yang dapat menguraikan cahaya ini menjadi elektron -elektron. Elektron ini masih lemah maka harus dikuatkan lagi dayanya oleh pre amplifier, dan dikuatkan tinggi pulsa dengan amplifier. Lalu elektron tadi dimasukkan ke PMT yang terdiri dari tegangan bertingkat dan banyak katoda, keluaran dari PMT menjadi berganda. Kemudian melalui counter nilai cacahnya dapat diketahui.

Yang perlu diketahui bahwa dalam spektroskopi gamma juga dicari resolusi tenaganya. Ternyata semakin kecil resolusinya semakin bagus data yang diperoleh, semakin besar resolusinya maka semakin tidak valid data yang diperoleh. Pola berfikirnya adalah sebagai berikut : dari data cacah nanti akan dapat dibuat grafik, dari grafik itu akan terlihat puncak-puncak gunung. Apabila resolusinya besar maka bisa saja didapat satu puncak gunung, eh ternyata didalamnya banyak punca-puncak yang tidak terbaca. Berarti resolusi besar belum tentu baik lho.

Sumber: Ortec dan berbagai sumber.


read more

Terkaan Maldacena, Batu Rosetta dalam hep-th

Judul diatas mengindikasikan bahwa terkaan Maldacena (Maldacena conjecture) merupakan sebuah penemuan sangat penting dalam perkembangan fisika energi tinggi teoretis (high energy physics-theory, hep-th, istilah lazim dalam xxx.lanl.gov). Ibarat ditemukannya batu Rosetta yang menyibak rahasia abjad kuno Mesir, terkaan Maldacena menghubungkan dua teori yang selama ini seolah terpisah, teori gauge/medan dan teori string. Dalam artikel ini, saya ingin memperkenalkan pencetus terkaan ini dan salah satu ahli teori string terkemuka saat ini, Juan Maldacena, beserta karya yang membuat namanya melambung sekitar 10 tahun yang lalu, AdS/CFT correspondence yang merupakan nama umum dari terkaan Maldacena.

Berdasarkan filsafat positif, ada baiknya jika saya perkenalkan sedikit tentang sosok Maldacena (lebih jauh dapat ditelusuri via google), kemudian gambaran umum tentang karyanya. Dr. Juan M. Maldacena, ini dia jagoan yang pantas ditiru. Lahir di sebuah negara berkembang (1) seperti Indonesia, yaitu Argentina, 10 September 1968, yang mana ayahnya adalah seorang insinyur, namun kelak dia mampu meraih posisi cemerlang dengan menjadi profesor fisika penuh di Universitas Harvard pada usia 31 tahun, meskipun ia baru saja meraih gelar doktornya dari Princeton 3 tahun sebelumnya. Hal ini dimungkinkan karena ia memang berhasil menemukan sesuatu yang ‘menggemparkan’ komunitas fisika teori energi tinggi saat itu, sekitar tahun 1997-1998. Seorang muda asal Argentina, mampu menembus penghalang dan tantangan yang ada, akhirnya mampu menorehkan namanya dalam catatan sejarah sebagai ilmuwan kelas satu.

Dari masa SMU nya, Dr. Maldacena memang mulai senang akan fisika. Awalnya bahkan ia tidak tahu fisika itu apa. Yang ia tahu hanyalah teknik, karena ayahnya adalah seorang insinyur. Selepas SMU, karena ingin tahu lebih jauh tentang fisika, ia masuk Universitas Buenos Aires tahun 1985, dan mulai saat itu ia semakin tertarik untuk belajar fisika. Gelar Licenciatura, setara dengan Master (S2) diperolehnya dari Instituto Balseiro, Universidad de Cuyo, Bariloche, Argentina, tahun 1991. Kemudian, ia berangkat ke Amerika tahun 1992 dan pada tahun 1996 ia memperoleh gelar doktor dari Universitas Princeton, di bawah bimbingan seorang fisikawan teoretis yang juga terkenal, Dr. Curtis Callan. Selesai dari Universitas Princeton, untuk sementara ia bekerja di Universitas Rutgers, sebagai peneliti post-doktoral, lalu ia bekerja di Universitas Harvard sebagai profesor tamu. Proses peningkatan karir yang sangat cepat ini dikarenakan beberapa temuan teoretisnya mengenai penjelasan dari teori string tentang lubang hitam (untuk karya ini ia banyak mengalahkan ahli-ahli senior lain di seluruh dunia yang berusaha menjelaskan hal yang sama), dan puncaknya untuk makalahnya yang diterbitkan di ‘Adv. Theor. Math. Phys. 2:231-252, 1998’ yang berjudul The Large N limit of superconformal field theories and supergravityatau popular dikenal dengan cikal-bakal istilah AdS/CFT correspondence.

Subjek AdS/CFT correspondence ini menteorikan adanya kaitan teori string (yang ada saat itu dikenal barulah sebuah ‘permainan’ matematis tentang teori fisika paling fundamental) dengan teori gauge yang telah banyak diaplikasikan untuk partikel (teori fisika yang realistik), sehingga para ahli teori string saat itu semakin optimis bahwa teori string mendekati kebenaran meskipun masih jauh untuk dapat dibuktikan secara percoabaan. Namun demikian, nama Dr. Maldacena menjadi harum, dan pada tahun 2001, ia ditunjuk menjadi profesor fisika di School of Natural Sciences, IAS, Princeton, di tempat yang sama dengan Dr. Witten. Institusi ini merupakan institutsi riset teori terbaik di dunia dengan penggajian para peneltiti di dalamnya (termasuk profesornya) yang sangat besar. Sebuah angka yang besar sehingga peneliti di dalamnya dapat berpikir dengan tenang tanpa harus khawatir akan nafkah hidup, bahkan tidak perlu memberikan kuliah. Posisi ini dapat dikatakan sebagai posisi impian sebagian besar (ada juga yang menolaknya, misalkan Richard Feynman) peneliti teori di dunia ini. Meskipun Dr. Maldacena dikenal luas oleh komunitas fisika teori dunia, rekan kerjanya di Harvard yang juga profesor ahli teori string, Dr. Cumrun Vafa pernah memberi gambaran demikian untuknya “Dia (Dr. Maldacena) adalah seorang fisikawan yang sangat rendah hati dan cemerlang”. Hal ini ditimpali oleh Dr. Andrew Strominger yang juga terkenal dan banyak bekerja sama dengan Dr. Maldacena, mengatakan ”kerendah hatiannya tidak biasa untuk orang secemerlang dia”.  Luar biasa… (-Anto-) AdS/CFT (2)Correspondence (3)

Penjelasan mikro tentang alam sebagaimana yang dimengerti saat ini dan didukung oleh eksperimen mengandung Teori Medan Quantum (misalkan elektrodinamika kuantum, menggabungkan kuantum dan elektrodinamika. Konsep fungsi gelombang pada teori kuantum digabungkan dengan medan gauge [nonabelian] yang merupakan besaran dinamik dari medan listrik dan magnet). Semua partikel merupakan ekstitasi dari beberapa medan. Partikel-partikel ini adalah berupa titik dan mereka berinteraksi secara local (posisi menentukan kekuatan interaksi) dengan partikel lain. Meskipun Teori Medan Quantum menjelaskan alam ini pada jarak yang dapat kita amati di eksperimen, ada interaksi kuat yang melibatkan elemen-elemen baru pada jarak sangat pendek (energi sangat tinggi, karena untuk menguraikan materi untuk ukuran yang semakin kecil, dibutuhkan energi yang makin besar), jarak dalam orde skala Planck. Alasan mengapa demikian, yaitu pada jarak ini, efek gravitasi kuantum menjadi signifikan. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah teori gravitasi kuantum yang valid. Namun sampai sekarang belum dapat ditemukan sebuah teori kuantum gravitasi yang memilki perumusan seperti teori interaksi dasar yang lain, seperti quantum electrodynamics (qed) atau quantum chromodynamics (qcd). Perumusan yang luas dipakai untuk teori-teori ini dapat dikenali dengan digunakan diagram Feynman (representasi dari pendekatan perturbasi interaksi partikel elementer).

Namun demikian, seseorang dapat membangun sebuah teori gravitasi kuantum yang konsisten dengan membuang konsep partikel titik sebagai partikel fundamental, dan mengantikannya dengan objek satu dimensi atau tali, atau kerennya disebut string. String ini dapat berosilasi, oleh karena itu akan ada spektrum energi, atau massa. String yang berosilasi terlokalisasi, yang mana bagi pengamat dalam energi rendah (misalkan laboratorium penumbuk dengan energi kecil) akan memandangnya seperti objek berdimensi nol saja, alias partikel titik. Praktis, dari sebuah string yang berosilasi (dengan banyak modus osilasi yang mungkin), maka akan dapat menggambarkan sangat banyak pertikel-pertikel, yang diteorikan tergantung dari keadaaan osilasinya (state). Semua teori string mengandung partikel dengan massa nol dan spin-2 (dalam pendekatan ala qed/qcd merupakan sifat dari graviton sebagai analogi foton atau gluon). Agar lebih jelas, mungkin sebagian pembaca cukup familiar dengan teori relativitas umum Einstein, yang mana besaran dinamik yang hendak dicari solusinya dari persamaan terkait yaitu tensor metrik yang merupakan tensor rank-2. Apabila teori Einstein ini dibawa ke dalam baju ala qed/qcd, maka tensor metrik ini direpresentasikan dengan medan dengan 2 indeks tensor dan memiliki spin-2,massless (graviton). Analoginya yaitu medan foton dengan indeks tensor 1 buah saja, yaitu medan dengan spin-1 yang juga massless. Sayangnya teori string tidak dapat ‘hidup’ dalam sembarang jumlah dimensi ruang. Misalkan saja, versi Bosonic dapat hanya hidup dalam 26 ruang, lalu versi super(symmetric)string di 10 dimensi. Tentu saja gambaran ruang banyak ini tidak mudah untuk divisualisasikan. Coba anda bayangkan 26 buah ruas garis yang saling orthogonal satu dengan yang lain. Kalau Cuma tiga ya gampang.

Namun apapun permasalahan yang dihadapi dalam realita dimensi banyak, jika kita harus menanganinya secara aljabar, maka persoalannya jadi lebih sederhana. Ibaratnya, tinggal menambahkan saja huruf-huruf dengan pangkat dua dalam rumusan Phytagoras. Nah, jika seorang ahli teori ditanyakan kenapa dimensi di alam nyata hanya ada 4 (3 spasial+1 waktu), maka ia akan menjawab:’Ooo, yang lebihnya ter(4)kompaktifikasi, yaitu dimensi-dimensi lebih ini tergulung menjadi objek manifold yang kompak dengan radius sangat-sangat kecil, sehingga praktis tidak dapat diamati dalam energi rendah –kehidupan keseharian kita-’. Apakah argumen ini benar? Perlu dibuktikan, namun yang frontal membuktikan salah juga belum ada jadi kita terima saja serambi mungkin nanti ada yang dapat membuktikannya salah. Namun, demikian sebelum melangkah lebih jauh, perlu kita ingat bahwa teori string pertama kali dibangun oleh para pendirinya dalam usaha untuk menjelaskan melimpahnya data hadron dan meson pada tahun 1960an. Idenya, masing-masing partikel tersebut adalah wujud dari string yang berosilasi pada keadaan berbeda-beda. Ibarat gitar, tekanan jari pada tiap string pada freet yang berbeda akan menghasilkan bunyi yang berbeda. QCD merupakan sebuah teori gauge dengan grup simetri SU(3) (5). QCD memiliki sifat kebebasan asimptotik, yaitu pada energi tinggi, konstanta kopling (interaksi) nya menjadi kecil sehingga perhitungan terkait dapat dilakukan relatif mudah. Dalam energi rendah, konstanta kopling ini menjadi besar, sehinga perhitungan yang umumnya bersifat perturbatif tidak dapat dilakukan, jadinya lebih rumit. Perhitungan analitis dalam energi rendah sangatlah susah, oleh karena itu para ahli beralih ke metode numerik, yaitu perhitungan dengan metode kisi, dimana ruang-waktu dimana hadron dianalisa dipotong-potong menjadi persegi-persegi kecil, menggantikan penanganan dimana ruang-waktu adalah kontinuum.

Lalu dalam perkembangannya, ‘t Hooft (konon, fisikawan teori peraih Nobel asal Belanda ini tahu dengan salah satu mantan fisikawan teoretis ITB, (alm.) Hans J. Wospakrik) mengusulkan bahwa theory QCD akan lebih sederhana apabila jumlah ‘warna’ Nc adalah besar (tahun 1974). Menariknya, kemudian ditemukan bahwa ekspansi diagramatik dari teori medan mengindikasikan bahwa teori dengan N yang besar adalah teori string yang bebas(6) dan konstanta kopling string ini adalah 1/N. Dalam hal ini telah ada petunjuk yang mengarah kepada alasan mengapa pada awalnya teori string sepertinya dapat menjelaskan spektrum massa dan momentum sudut dari hadron. Lebih jelasnya lagi, dalam kondisi jumlah N yang besar, teori gauge memiliki keterkaitan dengan teori string. Menarik… Tidak heran, mengapa nantinya Maldacena 23 tahun kemudian menggunakan argumen ‘t Hooft ini. Namun demikian, salah satu sifat yang dimiliki teori gauge yang dapat diaplikasikan dalam realita yaitu kopling yang tidak tetap (running coupling), tepatnya pada QCD. Ingat bahwa teori ini memiliki kebebasan asimptotik, pada energi tinggi, koplingnya jadi kecil, energi rendah jadi besar.

Di lain pihak, dibutuhkan teori yang memiliki kopling yang tetap, atau canggihnya dia memiliki keinvarianan konformal (conformal field theory, CFT). Lalu seiring dengan banyaknya para ahli teori yang percaya bahwa alam ini memiliki sifat supersimetri (boson dan fermion terkait langsung dalam transformasi-transformasi yang menjaga sebuah teori invarian), maka contoh yang paling umum diambil dalam menggambarkan AdS/CFT adalah Teori Gauge (dengan simetri SU(N) atau U(N)) Supersimetrik dengan muatan-super (supercharges) yang dimiliki paling banyak yang mungkin dalam dalam 4 dimensi yaitu 4 buah (N=4). Singkatnya teori ini disebut N=4 SYM  (7) dan mengandung bermacam-macam partikel/medan yaitu gluon-gluon (medan gauge), 4 buah medan fermion, dan 6 medan scalar dalam representasi adjoint dari grup gauge terkait. Grup konformal dalam 4 dimensi yaitu (8)SO(4,2) yaitu mengandung transformasi skala dan konformal spesial sebagai tambahan terhadap transformasi Poincare (Lorentz + translasi 4 dimensi). Sejauh ini mungkin sudah dapat dibayangkan bahwa yang dibahas dalam alinea ini hanyalah dari aspek teori medan (gauge) saja. Ada simetri SO(4,2) yang terkandung didalamnya.

Sekarang kita berpindah ke sisi teori string (gravitasi) yang terutama membahas dari sudut pandang ruang. Ruang yang mengandung simetri SO(4,2) adalah ruang Anti de Sitter (AdS) berdimensi 5. Ruang AdS merupakan solusi persamaan gravitasi Einstein dengan simetri maksimal dengan konstanta kosmologi negatif. Terkait sebelumnya teori gauge/medan yang dibahas memiliki supersimetri, maka teori string yang dipakai juga harus memiliki ini, dinamakan teori superstring. Nah, teori superstring hidup dalam 10 dimensi, artinya ada 5 lebih lagi ruang selain 5 dari AdS yang dibahas. Karena teori gauge yang kita gunakan memiliki simetri U(N), salah satunya yaitu U(4) yang aljabarnya mirip (isometri) dengan (9) SO(6), maka dapat disimpulkan bahwa dimensi berlebih ini berupa bola sangat-sangat kecil (hasil kompaktifikasi) berdimensi 5, S5, 5-sphere. Maka teori string yang kita bahas adalah superstring dengan background (10)(metrik)x AdS5xS5.

Saya pikir, sampai pada titik ini, para pembaca telah mendapat sense apa itu AdS/CFT (11). Lebih jauh, diharapkan dapat diambil manfaat praktis dari teori ini –AdS/CFT-. Misalkan dengan kopling 1/N dan N besar pada sisi superstring, yang tentu saja kondisi kopling lemah, perhitungan perturbatif dapat dilakukan, dan ini telah banyak dilakukan. Sementara, jumlah N besar mengakibatkan kopling kuat pada sisi teori gauge, artinya ini adalah daerah yang selama ini menjadi permasalahan oleh para fisikawan karena perhitungan menjadi rumit. Dengan kata lain, teori superstring (kopling lemah) dengan teori gauge (kopling kuat) dapat dikaitkan dengan kondisi tertentu.

Eksperimen seperti RHIC atau bahkan LHC dapat memberikan test terhadap teori gauge dalam kopling kuat. Tentu saja prediksi dari teri gauge sendiri untuk percobaan ini susah (tidak mungkin) dilakukan. Maka jika terkaan Maldacena benar, perhitungan dari sisi teori superstring sebagai pengganti teori gauge untuk kopling kuat akan memberikan prediksi yang baik. Kita tunggu saja dalam beberapa tahun ke depan. Para fisikawan teoretis sedang menjadikan topik ini sebagai salah satu yang terhangat saat ini. Sangat menarik…

Oleh : Haryanto M. Siahaan
Guru Fisika (tidak tetap), SMP St. Aloysius BN, Bandung
www.friendster.com/antoms
www.facebook.com/haryanto.siahaan

Referensi :
(1) Namun tidak sepenuhnya seperti Indonesia. Misalkan dalam hal universitas, Universitas Buenos Aires termasuk dalam top 200 versi Sanghai Jia Tong. Saya rasa, masih akan lama bagi Indonesia bisa seperti ini. Butuh usaha dan modal (sayang banyak dikorupsi) yang tidak kecil.
(2) Lebih lanjut akan disingkat dengan AdS/CFT saja.
(3) Artikel ini saya buat dengan bahan bacaan utama saya adalah Kitab AdS/CFT, http://xxx.lanl.gov/abs/ hep-th/9905111. Saya hanya mengambil sebagian dari sub-bab 1.1 nya saja, karena disinilah diperkenalkan dengan cukup baik apa itu AdS/CFT secara popular. Saya juga menambahkan beberapa point secara personal untuk mempertegas hal-hal yang dirasa kurang jelas oleh pembaca yang agak awam. Diharapkan, artikel ini dapat menjadi pengantar bagi para rekan fisikawan yang menggeluti fisika teori, karena jujur, jika tidak memiliki latar belakang ini mungkin artikel ini tidak akan banyak memberikan manfaat. Namun, untuk sekedar menambah pengetahuan tentu akan sangat baik.
(4) Disini digunakan imbuhan ter-, bukan di-, karena saya pikir belum ada oknum ciptaan-Nya yang sanggup mengkompaktifikasi ruang. Jadi memang sudah demikian adanya.
(5) Maaf sebelumnya jika para pembaca kurang familiar dengan istilah ini. Jika harus dijelaskan lebih detail sampai ngerti, akan panjang dan lari dari konteks, selain harus banyak rumus. Namun demikian, anda dapat membayangkan (bagi yang tahu) bahwa teori elektrodimanika kuantum adalah salah satu jenis teori gauge. Ia memiliki grup simetri U(1), hanya ada satu jenis foton. Dalam kasus QCD, dengan grup SU(3), akan ada 8 jenis partikel pembawa gaya, gluon.
(6) Istilah bebas di sini yaitu string tidak mengalami interaksi, biasanya dengan string lain.
(7) SYM merujuk pada supersymmetric Yang-Mills (setelah nama C.N. Yang dan R. Mills yang mencetuskan teori medan gauge non Abelian). Medan Yang-Mills dipakai dipakai dalam menjelaskan interaksi lemah dan kuat.
(8) Merupakan grup rotasi. Contoh, dalam ruang Euklid 3 dimensi, ada 3 macam rotasi yaitu terhadap x, y, dan z. Pembangkit rotasi ini (operator, matriks) membentuk grup yang dinamakan O(3). Dalam hal determinan matriks pembangkit (representasi grup) adalah 1, maka ditambahkan huruf S (special) sehingga menjadi SO(3). Dalam kasus SO(4,2) sebenarnya mirip dengan SO(6), rotasi dalam 6=4+2 dimensi. Angka 2 terpisah dari 2 menandakan adanya beda tanda +(-) dalam komponen metrik terkait, misalkan R2 = -A2 -B2+ C2+ D2+ E2+ F2 dengan ABCDEF=dimensi-dimensi.
(9) Ingat, simetri SO(3) membentuk permukaan berupa bola 2 dimensi (permukaan bola padat 3 dimensi). Maka dapat dimengerti bahwa SO(n) terkait dengan objek geometri berdimensi (n-1). Dalam kasus SO(6) dengan bola 5 dimensi.
(10) Jika ada diantara pembaca (mahasiswa fisika tapi bukan mengambil keahlian teori) budiman yang akhirnya dapat mengerti istilah-istilah dalam alinea ini, maka hal itu adalah sangat baik, karena dibutuhkan usaha yang tidak kecil untuk dapat mengeri ini semua.
(11) Sebenarnya masih banyak aspek yang dapat disampaikan berdasarkan acuan utama saya, misalkan tentang Dp-brane, formulasi GKPW (Gubser-Klebanov-Polyakov-Witten) dalam mengaitkan fungsi Green untuk teori medan dari fungsi pembangkit supergravitasi yang merupakan metoda perhitungan utama, namun ini semua akan membuat artikel ini kurang menarik.


read more