Minggu, 18 September 2011

Identifikasi Potensi Terjadinya Tawuran di Kampus Unhas

LATAR BELAKANG
Maraknya aksi bentrokan antar mahasiswa di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, membuat sebagian masyarakat tertentu mencibir peranan kaum pelajar. Betapa tidak, di tengah-tengah keterpurukan bangsa dan meroketnya biaya penididikan. Kini, hampir setiap hari golongan intelek acapkali berbuat ganjil, mulai dari aksi rusuh, tawuran, kekerasan fisik, penjualan narkoba, seks bebas, aborsi sampai tradisi menghilangkan nyawa orang lain. Selogan wajib menempuh pendidikan sembilan tahun hanya selogan semata. Pasalnya, menuntut ilmu tak bisa menciptakan manusia seutuhnya dengan budi pekerti yang arif. Malah mencetak anak didik berwatak barbar. Ironis memang. Tak hanya itu, jargon mahasiswa sebagai agen pengubah sosial, pembaharu, kontroling terhadap kebijakan pemerintah, mendobrak kemapanan dan panutan dalam soal moral ikut punah seiring derasnya arus baku hantam di kalangan kaum pelajar. Seolah-olah melekatnya status mahasiswa tak berbanding lurus dengan kebiasaan tak terpuji saat siswa. Adalah budaya tawuran dan adu fisik dalam menyelesaikan segala persoalan yang sedang dihadapainya.
“Ini sudah menjadi tradisi rutin”, begitu salah satu kutipan disebuah media surat kabar yang meliput terjadinya tawuran di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan. Tawuran kerap berakhir dengan baku lempar batu, senjata tajam, hingga aksi perusakan fasilitas kampus, pastinya akan mengkibatkan kerugian materil yang tidak sedikit. Terlebih lagi, tawuran juga menyebabkan korban luka-luka dan bahkan meninggal, padahal pemicunya tidak jarang hanya hal-hal yang sepele.
Mengapa di Unhas sangat berpotensi untuk terjadi tawuran ?, itulah yang akan kita coba kaji lebih mendalam pada makalah ini.

RUMUSAN MASALAH
Adapun masalah yang dapat kami rumuskan dalam pembahasan kali ini adalah :
1.       Apa pemicu terjadinya tawuran di Universitas Hasanuddin, Makassar.
2.       Mengapa di Universitas Hasanuddin, Makassar berpotensi terjadi tawuran.
3.       Bagaimana solusi untuk meminimalisir terjadinya tawuran di Universitas Hasanuddin, Makassar.

TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah :
1.       Untuk mengetahui apa pemicu terjadinya tawuran di Universitas Hasanuddin, Makassar.
2.       Untuk mengetahui mengapa di Universitas Hasanuddin, Makassar berpotensi terjadi tawuran.
3.       Untuk mengetahui bagaimana solusi untuk meminimalisir terjadinya tawuran di Universitas Hasanuddin, Makassar.

METODOLOGI
Pembahasan dalam makalah ini menggunakan metode kepustakaan, semua data yang terangkum di dalamnya diambil dari bahan-bahan bacaan baik dari media cetak maupun media elektronik yang relevan dengan pembahasan dan memiliki keterkaitan satu sama lain. Mengumpulkan data-data dari bahan bacaan tersebut kemudian mencari hubungannya, kemudian merangkum menjadi suatu yang lebih menarik.

DISKUSI
Tawuran, kedengarannya sangat aneh dan agak primitif, tapi itulah yang mereka lakukan, mahasiswa Universtas Hasanuddin (Unhas) yang katanya intelektual muda. Apalagi, sebab-sebab tawuran adalah hal-hal yang mungkin sepele bagi sebagian orang. Masalah ceweklah, masalah saling ejek, hingga masalah ada teman yang dipukul. Masalah seperti itu bisa jadi api besar yang kemudian membakar solidaritas kolektif. Massa kemudian ramai-ramai menyerbu fakultas lain.
Jika ditanya perihal tawuran, banyak mahasiswa Unhas yang berseloroh bahwa tawuran adalah bagian dari kalender akademik sebab, biasanya terjadi setiap bulan September. Pada bulan itu, mahasiswa merasa tertekan dengan tugas-tugas perkuliahan yang menggunung, dengan tuntutan mengerjakan skripsi yang berat. Melalui tawuran, mereka sejenak terbebaskan dari rutinitas tugas itu. Kampus akan segera diliburkan, kemudian mereka bisa istirahat sejenak.
Melalui tawuran, energi besar yang mereka keluarkan akan tersalurkan. Mereka kemudian merasa plong dan terbebaskan. Logikanya sama dengan seorang kawan yang lagi stres, dan sengaja pergi nonton pertandingan PSM di Stadion Mattoanging. Ia bebas teriak, mengumpat, dan memaki-maki. Sepulang nonton pertandingan sepakbola, ia merasa plong dan bebas stres. Logika yang sama juga berlaku dengan mahasiswa yang tawuran. Tertekan oleh tugas perkuliahan, hasrat berorganisasi yang tidak tersalurkan (karena kebijakan dropout yang kian ketat), serta kurangnya aktivitas kemahasiswaan yang diizinkan pihak kampus, menjadi benih-benih yang menyemai suburnya tradisi tawuran. Ini masih diperparah dengan arogansi pengajar yang merasa sok hebat, serta tiadanya katup-katup yang bisa mencairkan hubungan antar fakultas. Semua memperparah tradisi tawuran.
Dendam merupakan salah satu faktor yang memegang peranan penting sehingga seseorang melakukan tawuran yang bermotif dendam. Dendam ini sangat mendominasi terjadinya konflik yang terjadi di Universitas- Universitas Makassar. Dendam adalah salah satu sikap batin seseorang dalam melakukan pembalasan dan apabila keinginan batin tersebut tidak atau belum terpenuhi akan menimbulkan suatu sikap cemas dalam dirinya.
Terjadinya konflik di Universitas Hasanuddin, Makassar yang bermotif dendam disebabkan karena tekanan batin yang sangat mendalam atas perbuatan mahasiswa yang lain atau sikap mahasiswa yang sebelumnya memukuli atau mengejeknya sehingga timbul perasaan sebagai penghinaan yang dilakukan tetapi dilakukan oleh fakultas lain sehingga isu ini dapat dijadikan momen yang tepat untuk melakukan provokasi dengan sesama angkatan dan fakultas sehingga dengan isu ini sangat mudah memicu terjadinya konflik.
Kadang masalah yang tidak diselesaikan meskipun itu terjadi di luar area kampus bahkan bukanlah masalah yang berkaitan dengan kampus tersebut terbawa ke dalam kampus sehingga munculnya hal tersebut sehingga mempermudah memprovakasi mahasiswa untuk berbuat anarkis.
Doktrin senior merupakan salah satu faktor yang mengakibatkan konflik yang terjadi di Universitas - Universitas Makassar. Apalagi pada momen penjemputan mahasiswa baru (OSPEK) yang digelar setiap praperkuliahan yang diadakan oleh setiap fakultas dan pengurus lembaga. Ospek itu pula yang menjadi ruang-ruang aktulisasi mahasiswa, sehingga terkadang ada senior yang berlebihan dalam melakukan pembinaan pada mahasiswa baru. Hal ini dikarenakan para mahasiswa baru tidak diperlakukan seperti manusia sehingga ketika mereka mau melawan mereka semakin diperlakukan tidak manusiawi jadi jalan satu-satunya bagi mahasiswa baru adalah mereka harus menuruti apa yang diperintahkan oleh seniornya. Hal inilah yang kemudian membentuk perilaku dari para mahasiswa baru yang pada dasarnya adalah orang-orang yang buta pada permasalahan yang terdapat di Universitas Hasanuddin, Makassar.
Pada Moment Ospek pula mereka diberikan materi-materi yang salah satu materinya adalah melakukan orasi di tengah-tengah teman mahasiswa yang lain, isi orasinya adalah mengecam salah satu fakultas yang menjadi lawan mereka selama ini. Hal itu yang dapat memicu terjadinya konflik karena sejak awal mahasiswa didoktrin oleh seniornya untuk menjadi lawan dari fakultas lain dan ternyata doktrin ini berjalan difakultas lain sehingga menumbuhkan potensi terjadinya konflik antar mahasiswa.
Minuman keras dan segala pengaruh negatifnya telah ada sejak lama, sehingga bukan lagi menjadi hal yang aneh apabila minuman keras yang termasuk dalam jenis yang mengandung bahan memabukkan sebagai salah satu pemicu konflik yang terjadi di Universitas Hasanuddin, Makassar. Orang yang mabuk pada dasarnya tidak dapat mengendalikan diri, keadaan emosional yang tidak stabil sehingga rentan melakukan tindakan mengancam keselamatan dan kerusakan, dalam hal ini gedung-gedung yang ada.
Minuman keras yang berlebihan membawa pengaruh yang negatif atau sikap yang menuju ke arah yang tidak diinginkan setiap orang sehingga pihak civitas akademika diharuskan menemukan sebuah metode sehingga minuman keras tidak masuk di dalam kampus yag dapat merusak citra kampus.
mereka yang memiliki dendam memanggil teman seangkatannya dan junior-juniornya, setelah mereka semua datang dan berkumpul disatu tempat tertentu, mereka kemudian mengumpulkan uang untuk membeli minuman keras dan setelah minum mereka langsung melakukan penyerangan. Hal ini dilakukan untuk menambah keberanian dan menaikan adrenalin mereka.
Satu hal yang juga perlu ditambahkan yakni arogansi ilmu pengetahuan. Mestinya ilmu harus dilihat sebagai proses perjalanan untuk menemukan pengetahuan yang kemudian mengasah kebijakasanaan. Tapi di Unhas, ilmu menjadi terkotak-kotak dan masing-masing merasa lebih hebat. Bukan rahasia lagi kalau di kampus Unhas, mereka yang kuliah di ilmu-ilmu teknik seperti eksak merasa lebih superior ketimbang yang kuliah di ilmu sosial. Kuliah di eksak seolah identik dengan kecerdasan dan kehebatan, semenatra yang kuliah di ilmu-ilmu sosial adalah kelompok yang gagal bersaing. Apalagi, di kampus Unhas, filsafat ilmu tidak menjadi mata kuliah wajib. Pantas saja jika mahasiswa dan para pengajafrnya terkotak-kotak dalam cara berpikir yang sempit dan tiddak melihat relasi antar bidang pengetahuan. Inilah faktanya.
Banyak juga publik yang mengaitkan tawuran itu dengan situasi politik di Sulsel. Pada tahun 1992, gedung laboratorium milik Fakultas Teknik Unhas terbakar. Kata banyak orang, tawuran itu terkait dengan situasi jelang pemilihan Gubernur Sulsel, di mana saat itu Rektor Unhas Prof Basri Hasanuddin menjadi kandidat yang terkuat. Tapi, argumentasi tentang situasi politik ini agak berlebihan. Logika ini sama saja dengan memposisikan mahasiswa hanya sebagai pion yang mudah dikendalikan.  Argumentasi bahwa terjadi banyak masalah di tingkat internal dalam kampus sepertinya lebih masuk akal. Dan tawuran hanyalah satu kanalisasi untuk menyalurkan energi mahasiswa.
Sekadar mengingatkan, perkelahian mahasiswa yang berbuntut pembakaran kampus di Unhas pernah terjadi pada 1992 lalu. Kejadian itu kemudian dikenang sebagai \'Black September\' dari tahun 2003-2005. Pertama, 12 Desember 2003 Bentrokan antar mahasiswa di Kampus Unhas antara Fakultas Teknik (FT) dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP). Akibatnya, tujuh korban luka. Lima korban di antaranya berasal dari FISIP dan dua lainnya dari Fakultas Teknik. Kedua, 14 Desember 2003 Tujuh mahasiswa dan seorang satuan pengaman (Satpam) luka parah menyusul bentrokan antar mahasiswa di Unhas. Rektorat terpaksa membatalkan pelaksanaan ujian akhir. Sebab, tawuran melibatkan hampir sebagian besar mahasiswa Fakultas Teknik dan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Ketiga, 14 April 2004 Tawuran terjadi antara Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Karena tawuran ini, Albertu, Mahasiswa Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur tertikam di punggung sebelah kirinya dan dilarikan ke RS Wahidin Sudirohusodo. Keempat, 16 Desember 2004 Dua kelompok mahasiswa Fakultas Teknik dan FISIP di kampus Unhas Tamalanrea bentrok, sekitar 14.00 Wita. Akibatnya, empat orang mahasiswa dikabarkan mengalami luka ringan akibat terkena lemparan saat terjadi tawuran. Dua di antaranya adalah mahasiswa FISIP dan lainnya adalah mahasiswa Fakultas Teknik. Kelima, 31 Agustus 2005 Terjadi tawuran antar fakultas di Unhas masing-masing FISIP dan Teknik, 31 Agustus 2005 di Pelataran Baruga Unhas. Pelaku penyerangan melakukan pembakaran dan menghanguskan empat ruangan lembaga kemahasiswaan di fakultas tersebut. Dalam aksi tawuran tiga korban dilarikan ke RS Wahidin.
Sejatinya kita harus memahami bahwa perlakuan tak wajar itu hadir karena lunturnya budaya toleran, dan tertutupnya ruang dialog dalam menyelesaikan permasalahan. Menjamurnya bentrokan antar mahasiswa bukan saja dikategorikan sebagai kekerasan dalam pendidikan, tapi sudah termasuk pada kategori premanistik.
Cita-cita mulia pendidikan sebagai upaya memanusiakan manis pun harus rela raib ditelan kepongkahan dan keserakahan kita dalam mendidik anak. Apalagi, sang pendidik memberikan contoh tak layak. Lebih parah lagi, melunturnya budaya dialog tercermin dari seberapa jauh kita bisa menerima perbedaan dalam soal pendapat. Bila ruang-ruang tukar gagasan saja, sudah tak nyaman, bahkan hilang, maka tunggu keseragaman ide akan menjadi buahnya. Alhasil, kebiasaan bogem pula akan terus melekat dalam sanubari kaum terpelajar. Keragaman merupakan sesuatu yang tak bisa kita nafikan. Namun, harus kita junjung lebih tinggi. Pasalnya, kemajemukan pertanda hukum alam. Dengan demikian, kita harus mencoba mengarifi segala kemelut yang menimpa diri kita dengan lapang dada. Apalagi saat berselisih pendapat. Mestinya perbedaan bukan dijadikan sebagai laknat, tapi rahmat. Sederetan rapot merah mahasiswa pun tak akan disandang lagi oleh kaum terpelajar.
Mengatasi tawuran tidak semudah membalikkan telapak tangan. Mustahil pula mengatasi tawuran dengan hanya menyalahkan mahasiswa semata. Ini logika para petinggi kampus yang jelas-jelas keliru. Kita mesti melihat tawuran secara proporsional sehingga penanganannya bisa lebih holistik. Baik mahasiswa, dosen, maupun pejabat kampus harus sama-sama berbesar hati kalau semuanya punya ‘kontribusi’ pada lahirnya tawuran. Jangan hanya menuding mahasiswa saja.
Berbagai cara telah dilakukan untuk meminimalisir terjadinya tawuran, ospek mahasiswa baru yang terkadang menjadi biang pemicu terjadinya tawuran antar fakultas sudah dihentikan dan mencoba metode baru yang sifatnya lebih positip dan menguntungkan yang tentunya melibatkan mahasiswa itu sendiri

SIMPULAN
Ternyata ada beberapa hal yang dapat dijadikan masalah sebagai pemicu maraknya tawuran di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Arogansi Ilmu pengetahuan dipupuk sejak mahasiswa masuk di Universitas. Pemikiran yang sangat sempit telah ditanamkan bahwa ada ilmu pengetahuan yang lebih superior, yang lebih hebat dibandingkan dengan ilmu lainnya. Kuliah di salah satu disiplin ilmu selalu identik dengan kehebatan jika dibandingkan dengan disiplin ilmu lainnya. Mahasiswa baru tidak diajarkan bahwa Ilmu pengetahuan itu sama hebatnya dengan ilmu pengetahuan lainnya, satu sama lainnya berhubungan dan saling mengisi kekosongan jika akan diimplementasikan kepada masyarakat. Inilah salah satu dampak jika mahasiswa tidak dibekali filsafat ilmu saat berkenalan dengan universitas. Akibatnya sejak menjadi mahasiswa baru mereka telah diajarkan jargon-jargon arogansi yang sangat gampang menyala menjadi api yang besar jika bergesekan dengan jargon arogansi lainnya.
Banyak hal lain yang membuat tumbuh suburnya tawuran, seperti tekanan perkuliahan, ruang ativitas organisasi kemahasiswaan yang semakin dibatasi, dan kadang arogansi dan otoriter dari pengajar menjadikan penyebab utama tingkat stress mahasiswa yang kadang diluapkan melalui tawuran (setidaknya masih lebih bagus tawuran daripada bunuh diri). Karakter orang sulawesi yang memang keras, menurunnya budaya siri’ (Siri’ adalah rasa malu yang terurai dalam dimensi-dimensi harkat dan martabat manusia, rasa dendam, dalam hal-hal yang berkaitan dengan kerangka pemulihan harga diri yang dipermalukan. Jadi Siri’ adalah sesuatu yang tabu bagi masyarakat Bugis-Makassar dalam interaksi dengan orang lain), merupakan salah satu katalisator lain jika dilihat dari sisi budaya. Tertutupnya keran komunikasi antara mahasiswa dan pengajar juga salah satu pemicunya, indikasi lain yaitu adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja melakukan tindakan provokasi kepada mahasiswa karena tuntutan politik atau semacamnya.
Kesalahan tidak semuanya ada pada mahasiswanya, namun semua yang ada dalam kampus itu. Para dosen sebenarnya punya andil yang sangat besar bagaimana mengajarkan mereka cara menyelesaikan masalah yang lebih elegan. Sikap otoriter pengajar sudah seharusnya diubah menjadi egaliter. Tanggung jawab ini bukan hanya dibebankan kepada para dosen pembina mahasiswa yang jumlahnya hanya satu orng untuk tiap jurusan yang mahasiswanya ratusan.
Namun, tawuran apapun yang mereka buat tidak akan membuat mereka jadi orang penting. Malah cenderung jadi bermasalah dengan individual development yang akhirnya akan membelokkan karakter mereka. Sehingga menghambat perkembangan interaksi pada lingkungan kerja mereka atau kelompok kerja mereka, apabila mereka mendapat pekerjaan nanti.
Konflik merupakan salah satu fenomena sosial yang tidak dapat dihindari dan selalu ada dalam kehidupan manusia sehingga wajar fenomena konflik tersebut menimbulkan keresahan. Sebab konflik dianggap sebagai gangguan terhadap mahasiswa dan civitas akademika, sehubungan dengan keadaan yang demikian maka tidak ada jalan lain selain bersatunya semua elemen dalam kampus, baik birokrasi maupun mahasiswa dan kepolisian dalam membuat reaksi untuk melakukan upaya antisipasi agar konflik tersebut dapat dieliminir sekecil mungkin.
Usaha penanganan konflik telah ada dan terus dilakukan oleh semua pihak baik kepolisian dan civitas akademika karena setiap orang mendambakan suatu kehidupan atau kondisi aman damai. Adapun upaya antisipasi dari berbagai pihak, antara lain :
1. Upaya Civitas Akademika
Sebagai penanggung jawab atas terciptanya kampus yang kondusif maka pihak rektorat, fakultas, jurusan dan mahasiswa memegang peran yang sangat vital terhadap konflik dan ketertiban kampus. Upayanya mengantisipasi setiap gejala-gejala konflik. Civitas akademika di Universitas - Universitas Makassar melakukan berbagai usaha atau kegiatan yang dituangkan dalam program kerja bidang kemahasiswaan yang mana civitas akademika harus menerima aspirasi dari semua civitas akademika. Setiap aspirasi yang muncul harus terlebih dahulu dikaji secara mendalam. Apakah mewakili kepentingan keseluruhan civitas akadmika secara umum atau hanya sebagian saja atau apakah perlu didahulukan atau dilaksanakan, sehingga pengambil kebijakan harus bersikap representatif, responsif dan bertanggungjawab dalam menentukan kebijakan, maka upaya yang berhubungan dengan mengeliminir konflik antara lain :
  1. Ketegasan pihak rektorat
  2. Mengoptimalkan program-program kemahasiswaan
  3. Melakulan transparansi dalam kebijakan rektorat
  4. Melakukan patroli setiap sekretariat UKM fakultas.
Salah satu kebijakan rektorat yang digagas oleh civitas akademika di Universitas - Universitas Makassar adalah melakukan operasi disetiap setiap sudut kampus di sekretariat setiap fakultas dan UKM selama 24 jam oleh keamanan kampus apabila ditemukan minuman alkohol dan senjata tajam maka langsung ditindaki oleh satpam dan diproses di komisi disiplin tingkat universitas.
2. Peranan Kepolisian
Pihak kepolisian memiliki peranan yang sangat penting dalam menjaga usaha menangani konflik yang ada di Indonesia yang khususnya di kampus Universitas - Universitas Makassar. Dalam hal ini pihak kepolisian dapat melakukan komunikasi dengan satuan keamanan kampus (satpam) atau mahasiswa, Resimen Mahasiswa, pengurus-pengurus lembaga dan birokrasi kampus sehingga ketika timbul gejala-gejala yang mengarah konflik yang berdampak anarkis langsung dapat diredam oleh pihak kepolisian.
Secara tegas fungsi polisi dalam UU No. 2 Tahun 2002 telah dirumuskan secara tegas yakni salah satu fungsi pemerintah negara dibidang pemeliharaan, keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman dan pelayanan terhadap masyarakat. Maka secara garis besar fungsi kepolisian dapat digolongkan tiga bagian Fungsi ketertiban, Fungsi perlindungan dan fungsi pemeliharaan dan Negara.
3. Upaya Preventif
Penanggulangan secara preventif merupakan salah upaya yang mempunyai maksud agar usaha yang dilakukan secara astimatis berencana, terpadu, serta terarah jauh sebelum konflik itu terjadi. Tindakan ini sangat penting dan lebih efektif daripada menggunakan cara-cara lain.
Upaya preventif yang dilakukan kepolisian dan civitas akademika dalam rangka mencegah timbulnya konflik antara lain :
a). Mengoptimalkan program-program kemahasiswaan
Mengoptimalkan program-progam kemahasiswaan dengan cara merespon kegiatan-kegiatan mahasiswa yang bersifat positif serta dorongan moril terhadap mahasiswa sehingga menyaluran bakat bagi mahasiswa dapat teraktualisasi dengan baik serta memberikan fasilitas kegiatan-kegiatan yang dibutuhkan.
b). Mendirikan pos penjagaan dan mendirikan tembok pembatas
Konflik merupakan salah satu fenomenal yang tidak dapat diprediksikan waktu dan tempat kejadiannya. Oleh karena itu salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh aparat kepolisian dalam meminimalisir terjadinya kejahatan adalah dengan mendirikan pos-pos penjagaan pada tempat-tempat yang rawan konflik seperti perbatasan Fakultas Teknik dan Fakultas Bahasa dan Seni, dan salah satu kebijakan rektorat yang bersifat preventif membuat tembok pembatas antara Fakultas Teknik dan Fakultas Bahasa dan Seni.
c). Patroli Keamanan Kampus
Patroli keamanan kampus merupakan salah satu aktivitas rutin dan menjadi tulang punggung pelayanan operasional dalam melakukan pencegahan semua konflik maupun timbulnya berbagai gejala yang menyebabkan konflik sebagian tugas keamanan kampus, patroli keamanan kampus dilakukan dengan tujuan selain keamanan, patroli dapat menyerap informasi yang ada dalam kampus sehingga mencerminkan kesiapan keamanan kampus sepanjang waktu dalam rangka menjalankan keamanan dan ketertiban.
4. Upaya Represif
Tindakan yang berupa represif salah satu usaha yang dilakukan oleh kepolisian dan civitas akademika setelah terjadinya tindakan kejahatan yang sasarannya adalah pelaku pemicu konflik, tindakan yang bersifat represif yang dilakukan oleh civitas akademika dan kepolisian menanggulangi tindak kejahatan antara lain :
a) Tindakan yang tegas dari pihak rektorat serta diberinya wewenang pada kepolisian untuk melakukan penangkapan dan penahanan untuk mengungkap konflik yang terjadi sampai tuntas.
b) Melakukan koordinasi kerja sama dengan polisi dan civitas akademika dalam rangka menanggulangi setiap konflik.


DAFTAR PUSTAKA
http://rahman7syamsuddin.blogspot.com/2011_03_01_archive.html







0 komentar:

Poskan Komentar